About Me

>> kata tarot saya, saya itu:

Anxiety, sleepless night, spite and slander which undermine confidence. Suffering that is for eventual good such as putting up with painful treatment in order to get better. Female health problems, and possibly self-punishment and guilt.

dan agaknya tarot saya sudah kenal saya :)

or, click here to see the details

vrijdag, juni 11, 2004



Konversi senjakala Rimbaud

"Hidup ada di lain tempat".
Jurnal arthur muda, sebulan sebelum meninggalkan
pertanian ibunya untuk pertama kalinya.

Menjelang akhir hidupnya Arthur Rimbaud merubah pandangannya pada kristianitas yang dulu pernah ia anggap rendah--membuat sebuah preseden baru sebagai sebuah cara untuk menghidupi hidup sepenuhnya.

Arthur Rimbaud lahir sebagai anak kedua dari empat orang anak seorang perempuan anak petani yang tinggal di daerah pedesaaan Perancis. Pada umur enambelas tahun, dia melarikan diri untuk hidup menggembel di jalanan kota Paris, menulis syair-syair beraroma visioner maupun menghujat. Dia berkenalan dengan seorang penyair bernama Verlaine dimana selanjutnya ia tinggal bersamanya sampai ketika istri Verlaine mengusirnya dari rumah; Verlaine telah jatuh cinta pada Rimbaud, dan memutuskan untuk terus mendukung Rimbaud tanpa perduli akibat yang akan dihasilkan dari skandal hubungan homoseksual mereka. Rimbaud mendatangkan malapetaka di seluruh penjuru kota Paris, ia memukul topi-topi para pendeta, ia bahkan menyerang setiap orang yang diperkenalkan oleh si penyair terkenal Verlaine kepadanya, yang pada akhirnya menghancurkan perkawinan Verlaine. Setelah itu Verlaine dan Rimbaud melarikan diri ke pedesaan bersama, lalu pindah ke London untuk hidup di dalam kemiskinan yang hina sampai pada waktu Rimbaud mulai muak dengan Verlaine, dan mengklaim bahwa ia tidak dapat hidup bersamanya lagi dan memutuskan untuk pergi.

Dalam keputusasaan cintanya Verlaine menembak Rimbaud, dan melukainya pada pergelangan tangan. Polisi datang menangkap Verlaine dan memenjarakannya selama dua tahun, dengan tuduhan bukan karena percobaan pembunuhan tapi karena sodomi; sementara itu Rimbaud melarikan diri menuju pertanian ibunya dimana ia mulai melengkapi kerangka dari syair yang akan mengubah puisi dan tulis-menulis selamanya. Lalu, pada waktu ia berumur delapan belas, Rimbaud menaruh penanya dan mengumumkan bahwa ia telah cukup dengan menjadi seorang penyair. Setelah itu ia mulai belajar empat bahasa asing (Jerman, Arab, Russia, dan Hindustan---bahasa perancis, latin, dan inggris sudah diketahuinya sebelum mempelajari empat bahasa tersebut) dan merencanakan perjalanan: ia berjalan kaki menyeberangi pegunungan Alpen, bergabung dengan tentara kolonial Belanda dan melarikan diri ke Hindia, lalu bergabung dengan grup sirkus Jerman yang sedang melakukan tour di Skandinavia, mengunjungi Mesir, dan bekerja sebagai buruh di Siprus. Disepanjang perjanannya ini ia mengidap penyakit dan gangguan kesehatan yang serius, namun kedua hal tersebut tidak pernah membuatnya menghentikan perjalanannya. Ketika berumur duapuluh enam tahun, ia menjadi orang kulit putih pertama yang menginjakan kaki di Ogaden wilayah dari Ethiopia, dan laporannya mengenai daerah tersebut (dipublikasikan di dalam kongres kerja Geographical society) mengundang perhatian besar dari lingkaran akademisi.

Rimbaud kemudian pindah ke Ethiopia dan menjadi penjual senjata, ia menjadi akrab dengan penduduk sekitar, tinggal dengan seorang wanita suku asli Ethiopia dan membangun persahabatan dengan raja Ethiopia. Tidak lama kemudian ia menerima surat dari majalah puisi terkenal di Perancis, memohon agar ia pulang dan memimpin gerakan sastra baru yang baru saja berkembang dikarenakan karya tulisnya, Namun Rimbaud sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk membalas surat tersebut. Dia tidak kembali ke Eropa hingga ketika sebuah tumor tumbuh dilutut kanannya memaksanya melakukan perjalanan pulang yang jauh, ribuan mil menuju Perancis. Disana kakinya diamputasi, di bawah perawatan saudara perempuan dan ibunda kristennya ia merasakan kesakitan yang sangat dalam. ketika berada di ujung maut hidupnya, dengan keletihan hebat yang melampaui batas-batasan cintanya pada kehidupan dan kebenaran, ia membuat suatu pengakuan kepada seorang pendeta sebelum ia meninggal pada usia tigapuluh enam tahun.
Rimbaud lebih memilih mengenal hidup lebih baik daripada menjaga keselamatan dirinya sampai akhir hayatnya: ia menghabiskan setiap bekal yang ia punya sampai pada koin yang terakhir--membakar semua bahan bakar yang ia punya sebagaimana ia menghabiskan uang, keluarga, teman, dan sanitasnya--dan ketika kematian datang menghampiri dirinya, ia tidak memiliki apapun, tidak sama sekali ada kebanggaan dari seorang manusia ataupun pandangan umum yang utuh. namun kehidupannya masih berdiri mempesona sebagai sebuah contoh bagi diri kita semua.

cef ... yammering out of control at 6:28:00 p.m. ::



..:: to relieve pain is to create another pain ::..